Perjalanan dari Hudaibiyah Menuju Khaibar
Perjalanan dari Hudaibiyah Menuju Khaibar adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 3 Rabiul Akhir 1448 H / 14 September 2026 M.
Kajian Tentang Perjalanan dari Hudaibiyah Menuju Khaibar
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berangkat menuju Khaibar dengan keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kemenangan dan menaklukkan Khaibar. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan kemenangan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika di pertengahan pulang dari Hudaibiyah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Fath ayat 18–19 bahwa Dia telah meridai kaum mukminin ketika mereka membaiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di bawah pohon, yaitu ketika peristiwa Hudaibiyah.
لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ﴿١٨﴾ وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا ﴿١٩﴾
“Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat, serta harta rampasan yang banyak yang akan mereka peroleh. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Fath [48]: 18–19)
Baiat tersebut disebut Baiat Ridwan. Peristiwa ini terjadi ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama sekitar 1.400 atau 1.500 sahabat hendak menunaikan umrah, tetapi dihadang oleh kaum kafir Quraisy di Hudaibiyah sehingga tidak dapat memasuki Makkah.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mengutus Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu untuk melakukan negosiasi. Ketika muncul kabar bahwa Utsman terbunuh, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengambil sumpah setia para sahabat untuk tidak mundur apabila terjadi peperangan. Baiat inilah yang disebut Baiat Ridwan.
Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, menurunkan ketenangan kepada mereka, dan memberikan kemenangan yang dekat. Ayat ke-19 berkaitan dengan peperangan Khaibar. Khaibar akan dibuka dan ditaklukkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kedatangan Kaum Muslimin di Khaibar
Pasukan Islam tiba di benteng-benteng Khaibar. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin bermalam di luar benteng, sedangkan orang-orang Yahudi tidak mengetahui kedatangan mereka.
Pada pagi harinya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum muslimin melaksanakan shalat Fajar pada awal waktunya. Setelah itu, mereka memasuki Khaibar. Orang-orang Yahudi yang tidak mengetahui kedatangan kaum muslimin keluar menuju ladang dengan membawa alat-alat untuk bercocok tanam.
Ketika melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pasukannya, mereka berkata, “Muhammad dan pasukannya.” Mereka pun segera melarikan diri dan masuk ke dalam benteng-benteng mereka.
لَأَنتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِم مِّنَ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُونَ ﴿١٣﴾ لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوْ مِن وَرَاءِ جُدُرٍ…
“Sungguh, kamu lebih ditakuti dalam hati mereka daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak memahami. Mereka tidak memerangi kamu secara bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau dari balik tembok.” (QS. Al-Hasyr [59]: 13–14)
Ayat ini menjelaskan ketakutan kaum Yahudi. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat mereka diliputi rasa takut, beliau bersabda, “Allahu Akbar, Khaibar telah hancur.”
Khaibar pun hancur. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa ketika beliau turun di lapangan suatu kaum, buruklah nasib orang-orang yang telah diberi peringatan.
Ketakutan akan menjalar ke hati orang-orang kafir apabila kaum Muslimin berada di atas agama mereka. Sebaliknya, ketika kaum Muslimin meninggalkan agama, Allah akan mencabut rasa takut dari dada orang-orang kafir dan memasukkan penyakit wahn ke dalam hati kaum Muslimin.
حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Rasa cinta kepada dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa wahn adalah cinta dunia dan takut mati. Ketika seseorang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berada di atas agama-Nya, Allah memberikan rasa takut kepada musuh-musuh Islam. Sebaliknya, ketika kaum Muslimin tidak berada di atas agama dan banyak melakukan pelanggaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut rasa takut itu dari dada orang-orang kafir.
Benteng-Benteng Yahudi di Khaibar
Orang-orang Yahudi Khaibar membentengi diri dalam delapan benteng yang kokoh. Benteng yang paling kokoh adalah Benteng Na’im. Benteng ini menjadi lini pertahanan pertama dan utama karena letaknya sangat strategis.
Benteng Na’im merupakan benteng milik Marhab, seorang pemimpin Yahudi yang memiliki kecakapan, ketangkasan, dan kehebatan dalam berperang. Ketangkasannya sebanding dengan seribu orang. Ia dikenal sebagai jagoan dan berada di Benteng Na’im.
Bendera untuk Ali bin Abi Thalib
Pada malam sebelum serangan terhadap Khaibar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kabar gembira kepada para sahabat bahwa bendera akan diberikan kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta kemenangan akan diraih melalui tangannya.
Para sahabat pada malam itu saling berbisik dan bertanya-tanya tentang siapa yang akan menerima bendera tersebut. Pada pagi harinya, mereka segera mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Masing-masing berharap agar bendera itu diberikan kepadanya karena hal tersebut merupakan keutamaan yang besar.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Di mana Ali bin Abi Thalib?” Para sahabat menjawab bahwa Ali sedang sakit pada kedua matanya. Rasulullah kemudian memerintahkan agar Ali dipanggil dan didatangkan kepadanya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meludahi kedua mata Ali bin Abi Thalib. Seketika itu, kedua mata Ali sembuh seakan-akan tidak pernah sakit. Setelah itu, Rasulullah memberikan bendera kepada Ali bin Abi Thalib.
Peristiwa tersebut merupakan mukjizat Nabi. Kaum Muslimin tidak boleh menirunya karena mereka bukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meludahi orang sakit sebagaimana yang dilakukan sebagian ustadz atau kiai kepada jemaah bukanlah tindakan yang benar.
Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kami.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkannya untuk maju dengan tenang hingga tiba di wilayah mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan Ali agar terlebih dahulu mendakwahi mereka untuk masuk Islam dan menjelaskan kewajiban mereka terhadap hak Allah. Beliau bersabda bahwa apabila Allah memberikan petunjuk kepada satu orang melalui Ali, hal itu lebih baik baginya daripada memperoleh unta merah.
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
“Demi Allah, sekiranya Allah memberikan petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, hal itu lebih baik bagimu daripada memperoleh unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebelum perang, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kaum Muslimin untuk terlebih dahulu mendakwahi mereka agar masuk Islam, bukan langsung menyerang.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membimbing para sahabat agar bersemangat mendakwahi manusia untuk masuk Islam dan tidak menjadikan ghanimah sebagai tujuan utama sebelum penaklukan terjadi.
Ali bin Abi Thalib membawa panji dan bergerak bersama pasukan kaum Muslimin menuju benteng pertama kaum Yahudi, yaitu Benteng Na’im.
Benteng Na’im merupakan salah satu benteng paling kokoh di Khaibar. Di dalamnya terdapat Marhab, pemimpin atau raja Yahudi yang ketangkasannya disebut sebanding dengan seribu orang.
Ali bin Abi Thalib mengikuti perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia tidak langsung menyerang, tetapi terlebih dahulu mendakwahi mereka agar masuk Islam. Namun, mereka menolak dakwah tersebut.
Marhab kemudian keluar menuju medan perang dan menantang kaum Muslimin untuk berduel satu lawan satu. Ia dikenal sebagai orang yang gagah, ahli perang, dan sangat tangkas.
Marhab berkata bahwa dirinya dinamai oleh ibunya dengan nama Marhab. Ia memiliki persenjataan lengkap dan merupakan pahlawan yang telah teruji dalam peperangan.
Ali bin Abi Thalib tampil ke depan dengan penuh keberanian dan tanpa rasa takut. Ia menghadapi Marhab dengan tawakal kepada Allah.
Ali berkata bahwa dirinya dinamai oleh ibunya dengan nama Haidar, seperti singa hutan yang menakutkan pandangannya. Ia akan membalas serangan dengan seimbang dan cepat.
Dalam peperangan, seorang Muslim tidak boleh menampakkan kelemahan. Ia perlu menampilkan keberanian dan kegagahan. Adapun di luar peperangan, sikap seperti itu tidak perlu ditunjukkan.
Ali bin Abi Thalib maju melawan Marhab tanpa rasa takut. Ia menebas Marhab dengan pedangnya secepat kilat hingga lehernya tertebas. Orang yang ketangkasannya disebut sebanding dengan seribu orang itu pun tumbang oleh Ali bin Abi Thalib dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemenangan tersebut terjadi dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, dalam peperangan seorang Muslim harus memohon pertolongan kepada Allah.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Perjalanan dari Hudaibiyah Menuju Khaibar” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56546-perjalanan-dari-hudaibiyah-menuju-khaibar/